Peran divisi

Divisi ini mempunyai beberapa peran dalam mengembangkan anggotanya menjadi intelektual muslim yang gemar mengkaji alqur’an. Dengan melasanakan agenda rutin Yakni :
• Mengadakan kajian rutin
• Mengadakan diskusi rutin
• Mengadakan pelatihan-pelatihan
Itu semua dillaksanakan untuk memperkaya anggotanya dalam khazanah keilmuan al qur’an.

Sejarah berdirinya divisi Tafsir

Divisi Tafsir pada sejarahnya merupakan perubahan dari Divisi Tafhim pada periode kepengurusan 2002-2003. Divisi tafsir merupakan salah satu divisi di UKM JQH Al-Mizan yang berkonsentrasi pada kajian-kajian keilmuan di samping kegiatan pendukung lainnya. Tafsir berorientasi memperdalam kajian Al-Quran agar selalu menghiasi dan mendasari aktifitas apapun yang dilakukan oleh kader atau bahkan masyarakat secara umum. Maka, wacana yang menjadi alat tafsir diperdalam secara khusus dalam satu fase kajian. Wacana tersebut biasa kita sebut dengan Ulumul Qur`an. Dengan menggunakan tenaga dosen yang ahli dalam bidang ini, kajian mingguan dijalani dari minggu ke minggu. Kemudian wacana tafsir tentang referensi primer berupa kitab-kitab arab klasik dikaji. Bentuk pelatihannya adalah dengan berlatih membaca lewat bimbingan orang yang ahli. Selanjutnya, kader juga disuguhkan wacana kontemporer, berupa tokoh-tokoh dengan wacana tafsir sebagai ujung perjalanan akademiknya. Dan kader selalu dipancing untuk mengarahan materi kajian pada setiap fase di atas kepada aplikasi penerapan teori untuk feenomena-fenomena yang lagi hangat dibicarakan oleh masyarakat.

Baca lebih lanjut

Prestasi-Prestasi yang Pernah Diraih

  • Juara I lomba Festival Solawat Se-DIY dan Jawa Tengah Piala Trophy Tetap Sri Sultan Hamengkubuwono X
  • Juara III Fistifal Sholawat Se DIY, Fakultas Adab UIN SUKA 2007
  • Juara II festifal rebana se DIY,2005
  • Juara II festival Rebana Rebo Pungksan
  • Juara Umum dan Favorit Festival Internasional di JEC Trophy Wakil Presiden RI

Peran Divisi

Kalau ke-empat divisi sebelumnya banyak bersentuhan langsung dengan kalimat-kalimat Al-Quran, divisi sholawat lebih mengkonsentrasikan diri pada pembacaan kalimat pujian buat baginda Rasulullah. Boleh dikata, divisi ini punya peran penting untuk menyempurnakan ideologi organisasi. Al-Quran dan hadits adalah ideologi yang disepakati sebagai landasan aktifitas organisasi. Dengan menghayati keberadaan Muhammad sebagai pahlawan paling berjasa memperkenalkan kitab suci untuk mengenal Tuhan diharapkan mampu ditemukan lewat kegiatan-kegiatan yang ditawarkan oleh divisi sholawat ini.

Sejarah Berdirinya Divisi Sholawat

Divisi Shalawat berdiri Pada tahun 2003 bertepatan dengan turunnya jabatan Sdr Fauzan dari ketua JQH Al-Mizan, dan terpilihnya mas Burhan sebagai ketua JQH Al-Mizan yang baru. Pada saat itu terjadi perdebatan panjang dengan keberadaan divisi shalawat itu sendiri. Ada yang setuju dan ada yang tidak. Tokoh yang tidak setuju yakni mas Irohan, dari divisi tafsir dengan alasan bahwa shalawat bisa induk atau bergabung dengan divisi Tilawah. Berbeda dengan pihak yang setuju dengan lahirnya divisi shalawat sebagai divisi baru di Al-mizan. Mereka beralasan bahwa shalawat sudah merasa layak sebagai divisi baru. Alasan lain karena masalah keunagan karena pada saat itu personel shalawat terdiri dari berbagai divisi. Pada saat itu personelnya hanya berjumlah 10 orang. Diantara meraka kebanyakan dari divisi Tilawa antara lain : mas Zamam, mbak Fatma, mbak Khusnul, mas Fauzan, bang Dul. sedangkan para penabuhnya dari divisi kaligarfi antara lain : mas Arief Rahman, mas Uye Sholihul Hadi, mas Burhan dan dari divisi Tafsir yaitu mas Naufal. Alat musik yang digunakan hanya rebana saja.

Baca lebih lanjut

Kaligrafi Arab

Kaligrafi Arab atau lebih terkenal dengan ‘khot’ adalah seni tulis-menulis huruf Arab dengan indah. Seni khot pada permulaan masa kelahirannya dipepulerkan di antaranya oleh Ibnu Muqlah. Hanya saja, kaidah, keindahan, serta ragam jenisnya belum sesempurna dan sebanyak sekarang. Kaidah, keindahan, dan unsur-unsur khot lainnya mencapai puncaknya di tangan kaligrafer (khoththot) Baghadad, Hasyim Muhammad al-Baghdady. Kaidah khot yang disusun Hasyim selanjutnya dijadikan standar internasional pada setiap peraduan kaligrafi.

Baca lebih lanjut

Sejarah Berdirinya

Ada apa dengan kaligrafi…?

Dalam sejarahnya divisi kaligrafi merupakan divisi yang ke empat setelah Tilawah, Tahfidz dan Tafhim, yaitu tepatnya pada tahun 2000.

Divisi ini didirikan oleh mas Robeth Nasrullah, yang dibantu oleh mas Suryadi, mas Nurul Huda, mas Edi Supriyanto, mas Sholikhul Hadi. Yang kemudian di ikuti oleh mas Irvan Ali Nasrudin, mbak Khamidah, mas Burhanudin, mas Ni’amillah dan mas Arman Suryono. Meskipun sebagai anak ke empat Al Mizan, divisi ini cukup dikenal dikancah seni khususnya seni yang bebrbau ke-arab-an. Tugas yang paling mulia di divisi ini adalah bagaimana kita mampu melukiskan kebesaran nilai-nilai Qur’ani, ide dan melukiskan segala sesuatu dengan kelenturan tangan dan hati.

Baca lebih lanjut